Jumat, 20 November 2009

Mengapa Mesti Marah Kepada 2012, Kalau Jam 20.12 Bisa Saja Tiba ?



Hampir semua orang yang percaya padaNya,
yakin kiamat bisa datang kapan saja,
tidak usah menunggu tahun ke 2012,
besokpun, kalau itu sudah ketetapanNya,
kiamat bisa tiba sekejab mata,

Kalau yakin kiamat bisa datang kapan saja,
tentu detik ini semua orang akan menghentikan marah-marah, fitnah, apalagi merusak,
tentu detik ini semua orang membongkar pelitnya lalu berlomba-lomba bersedekah dan tidak lagi mengejar-ngejar pembuat, penonton dan pengedar film 2012
tentu detik ini semua orang menghindari sombong, bohong dan akan berkata yang baik-baik saja,
tentu detik ini semua orang akan menghentikan perdebatan tak berguna, perseteruan dan perang,
tentu detik ini semua orang tak mau lagi merugikan orang lain, apalagi korupsi yang merugikan banyak orang,
tentu detik ini semua orang akan banyak benar-benar mohon pengampunan,
tentu detik ini semua orang akan banyak serius membaca, mempelajari, melaksanakan dan mensyiarkan kitab-kitabNya

Amat kontroversi penghuni dunia ini,
di satu sisi percaya kiamat bisa datang kapan saja,
di sisi lain, detik ini,
semua penyakit masih dibiarkan mendekam dalam hati,
pertanda belum benar-benar yakin,
kapan saja kiamat bisa saja tiba.

Sastrawan Batangan, 21 November 2009.
http://www.sastrawanbatangan.blogspot.com


Kamis, 19 November 2009

Sepucuk Keris Tua Dari Jawa


Sepucuk keris tua dari Jawa,
berjuluk ki Rumeksa,
milik turunan entah ke berapa dari raja dahulu kala,
tersimpan wangi
dalam warangka di almari berkaca.

Ketika suatu kali ditarik keluar dari warangka
untuk dicuci,
ki Rumeksa meminta pensiun kepada pemiliknya,
karena sudah uzur dimakan umur,
namun pemiliknya berkata :
“Janganlah begitu ki Rumeksa,
engkau masih diperlukan kapan saja”

Ki Rumeksa sedih,
memang betul ia masih diperlukan,
kapan saja,
selagi pemiliknya percaya kalau dia ada tuahnya,
untuk menjadikan pamor wibawa
hinggap di diri pemiliknya,
walau Ki Rumeksa tidak membenarkan,
karena akan menyekutukan Yang Maha Kuasa.

Namun Ki Rumeksa menjadi girang,
saat dimasukkan kembali ke warangka,
karena pemiliknya berkata :
“Janganlah sedih ki Rumeksa,
tak lagi kuharap tuahmu,
kuperlukan sebatas pajangan
untuk pemanis mata saja”

Ki Rumeksa dalam warangka,
sisa-sisa budaya tuah masa lalu,
kini kembali tersimpan rapi,
dalam lemari wangi berkaca,
milik manusia Indonesia keturunan Jawa,
yang pernah sekolah di Amerika.

Sastrawan Batangan, 3 November 1996/19 November 2009
http://www.sastrawanbatangan.blogspot.com

KuDapati Dua Dari Seribu Masih Seidealis Dulu


Dulu, ketika seorang mahasiswa
diminta bicara mewakili temannya,
memberi selamat wisuda kepada seniornya
naiklah dia ke panggung,
dan terucaplah pesannya :
”Jangan lupa, kakakku,
di tengah quiz-quiz dan praktek-praktek laboratoriummu,
di tengah kuliah-kuliah dosen dan padatnya kurikulummu,
di tengah hujan-hujan dan gerimis-gerimis yang mengguyur tubuhmu,
di tengah cekak dan lambatnya kiriman uang dari kampungmu,
engkau pernah turun ke jalan,
berteriak lantang, memprotes keras
penyalahgunaan wewenang, korupsi, kolusi, nepotisme
dan segala bentuk ketidakberesan di bumi Indonesia ini,
bahkan engkaupun sempat bentrok
dengan aparat hanya untuk maju selangkah,
sehingga bajumu cabik-cabik,
badanmu luka bahkan ada yang dipenjara.
Selamat jalan kakak-kakakku,
mengabdi tekunlah pada bangsamu,
bangsa kita semua”

Dua puluh lima tahun berpisah sudah,
ketika kemarin mereka bertemu,
dua-duanya salam-salaman,
dua-duanya bertabik-tabikan,
dua-duanya kangen-kangenan,
terjadilah perbincangan singkat,
”Syukur kakakku,
walau karir birokratmu nyaris hampir ke puncak,
di tengah banyak teman segenerasimu yang kena semprot karena ketahuan disuap,
kau tidak pernah masuk koran,
karena hidupmu sederhana saja”.
”Syukur adikku,
meski prestasi usahamu tidak secepat roket,
di tengah banyak kawan seprofesimu yang didamprat karena terbukti menyuap,
kau tidak pernah masuk berita,
karena hidupmu apa adanya ”

Keduanya merenung sejenak,
terngiang dengan kata ”sederhana” dan ”apa adanya”,
rupanya itu pengakuan yang keluar dari hati nurani,
rupanya itu pula yang dua puluh lima tahun menyelamatkan mereka,
dan itu pula yang siap untuk diceritakan kepada anak cucunya.
Keduanya, yang hanya dua dari seribu,
lalu minum bajigur, timus, dan singkong rebus,
diiringi lagu Sunda kenangan masa lalu.

Sastrawan Batangan, 19 November 2009

http://www.sastrawanbatangan.blogspot.com

Rabu, 18 November 2009

Kabar Kepada Saudara SeBangsaku di Athena.


Kepada sahabat-sahabat sebangsaku di Athena,
negeri tempat lahir the Great Alexander,
izinkan saya menulis surat ini kepadamu,
semata selain sebagai rasa syukurku padaNya,
juga sekalian melaporkan, sekaligus berterima kasih,
karena telah kau realisasikan keberdayaan dirimu,
untuk bergotong royong peduli kepada saudaramu
di tanah air tercinta ini.

Kemarin, 3 November 2009,
di Posyandu Sakura,
Kampung Kedep, Desa Tlajung Udik, Kecamatan Gunung Putri Bogor,
tidak jauh dari Cikeas sana,
155 balita, ibu hamil dan lansia tidak sejahtera,
telah tersentuh kepedulianmu,
selama minimal 6 bulan,
dengan bubur kacang ijo dan telur rebus,
untuk memancing keberdayaan masyarakat mampu di sekitarnya,
untuk memancing keberdayaan belasan pabrik di sekelingnya,
untuk memancing keberdayaan punggawa pemerintah
untuk memancing tokoh masyarakat di lingkungan sana
agar selalu ingat di saat duduk berdiri dan berbaringnya
lalu segera bertindak
untuk peduli kepada saudaranya yang tidak sejahtera,
yang karena miskinnya tidak lagi peduli asupan gizinya,

Kepada sahabat-sahabat sebangsaku di Athena,
negeri tempat lahir budaya besar Yunani,
izinkan aku mewartakan,
posyandu itu sebenarnya mau ditutup,
karena pengurusnya tidak kuat menanggung biaya
padahal itu sekadar telur dan kacang ijo saja
sementara masyarakat mengacuhkannya,
bahkan ada yang bilang, posyandu ditutup saja.
Betapa sedih,
sementara banyak rumah ibadah makin cantik,
sementara vocer telepon terjual seperti air mengalir,
urusan tetangga tidak sejahtera,
menunggu datang malaikat sepertimu.

Kepada sahabat-sahabat sebangsaku di Athena,
negeri dengan sejuta pesona purba,
izinkan pula aku menambahkan,
di belakang rumah tempat posyandu itu,
ada gubug reyot hampir roboh, dan akan roboh, kata tetangganya,
kalau ada angin besar sedikit saja
sementara pemiliknya yang janda jompo tua miskin, sakit pula,
tidak bisa berbuat apa-apa,
karena anaknya hanyalah pekerja harian pabrik,
yang hanya berupah sebatas untuk makan keluarganya saja,
Betapa sedih,
sementara baju makin berwarna-warni,
sementara mobil bagus makin berseliweran,
sementara motor genit makin meraung-raung,
sementara mal terang benderang makin padat pengunjung,
si jompo tua miskin sakit, pemilik rumah hanya pasrah,
karena saudara dan tetangganya belum berbuat apa-apa,

Kepada sahabat-sahabat sebangsaku di Athena,
negeri dengan tumpukan dokumen tebal sejarah tua,
izinkan aku berharap,
seperti halnya engkau mudah-mudahan juga berharap
semoga Tuhanmu, Tuhanku, Tuhan kita semua,
tidak marah lantas turun tangan sendiri,
karena manusia tidak totalitas menjadi khalifahNya,
sehingga hanya mengurusi kemegahan bangunan ibadah saja,
sehingga hanya mengurusi seremonial agama saja,
sehingga hanya mengurusi keluarga dan harta bendanya saja,
sehingga hanya mengurusi politik dan kekuasaan saja,
sehingga hanya menggunjingkan sinetron dan isyu-isyu media saja,
lupa tidak mengurusi tetangga dekatnya yang tidak sejahtera,

Kepada sahabat-sahabat sebangsaku di Athena,
di negeri dengan sejumlah filosof terkenal dunia,
izinkan aku mengakhiri suratku ini.
dengan ucapan terima kasihku,
semoga upayamu untuk memberi
dan menganjurkan memberi orang tidak berpunya,
walau belum menjangkau 4 juta balita dan 30-an juta orang miskin Indonesia
adalah pertanda tidak mendustakan agama,
semoga keihlasanmu untuk mengurusi yang dianggap kecil itu
adalah pelengkap syarat manusia bertakwa,
yang telah diberiNya janji akan dianugerahi rahmat dan sejahtera
ketika dihidupkan, dimatikan dan dibangkitkan kembali.

Gunung Putri, Bogor, 5 November 2009.
Jon Posdaya/Sri Posdayawati/Sastrawan Batangan,
http://www.mariberposdaya.blogspot.com

Catatan :

Komunitas masyarakat Indonesia di Athena Yunani, sejak Oktober 2008 telah bergotong royong membantu gizi 220 orang balita/ibu hamil/lansia prasejahtera di Posyandu Teratai di Kampung Kedep, RW 19, Desa Tlajung Udik, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Sejak November 2009 ini, bantuan ditambahkan lagi untuk 155 orang di Posyandu Sakura di Kampung Kedep, RW 21 di desa yang sama. Bantuan untuk masyarakat prasejahtera itu berupa dana yang diberikan kepada pengurus posyandu untuk membiayai pembuatan bubur kacang ijo dan telur rebus.

Di desa tersebut terdapat puluhan pabrik yang CSR-nya belum dirancang untuk memberdayakan masyarakat agar peduli gizi anak kecil yang kalau tidak dijaga kestabilannya sejak dini, akan berpotensi menjadikan anak-anak tersebut bodoh yang di kemudian hari akan menyebabkan masalah besar bagi perikehidupan berbangsa dan bertanah air. Beban besar bagi anak-cucu manusia Indonesia di masa depan karena keproduktifan anak pintar (sebagai dampak dari gizi yang tercukupi) terganggu oleh ketidakproduktifan anak bodoh (karena kurang gizi) yang biasanya pula cenderung gampang terprovokasi untuk merusak hasil-hasil produksi bangsa.

Kordinator pengurus posyandu yang mengorganisasikan kegiatan di kedua posyandu tersebut adalah : Ibu Ade Siti Hayati (Posyandu Teratai, 021-8675061), Ibu Sanih (Posyandu Sakura, 0817-66037)


Selasa, 17 November 2009

Tinggalkan Saja, Buat Apa Di Jakarta



Tinggalkan saja, buat apa di Jakarta,
kalau dia memanjangkan jam perjalananmu,
kalau dia menjadikanmu sulit masuk kantor tepat waktu,
kalau dia merendam jalan sekitar rumah atau bahkan rumahmu,
kalau dia menyebabkanmu terengah-engah naik turun tangga gedung ketika gempa tiba,

kalau dia tidak memberikan kenyamanan buat sekolah anak-anakmu,
kalau dia membuatmu diPHK gara-gara perusahaanmu merugi, bangkrut atau diover orang lain,
kalau dia membuatmu semakin suka marah-marah,
kalau dia menjadikanmu semakin berperilaku egois,
kalau dia membuat hari tuamu tidak sesegar, sehijau dan seindah masa kecilmu.

Tinggalkan saja, buat apa di Jakarta,
jika semua itu alasannya,
lebih baik bertani, berkebun; memelihara ikan, berindustri kecil, berdagang kecil,
sembari mengajari anakmu hidup di desa tidak kalah maju di abad internet ini,
sembari menyiapkan gua-gua tempat sembunyi jika perang nuklir meletus,
sembari menyiapkan lumbung padi persiapan paceklik panjang seperti suku Baduy,
sembari menyiapkan kampungmu bila saudara-saudaramu di Jakarta datang mengungsi
sembari menyehatkan jiwa dan ragamu agar tegar lagi,
sembari menyiapkan semua syarat untuk kembali tulus ikhlas menghadapNya,

Sastrawan Batangan, 17 November 2009
http://www.sastrawanbatangan.blogspot.com

Senin, 16 November 2009

Berlomba Menuju Bencana

Seperti semut mendatangi gula,
seperti itulah orang berlomba menanami lembah-lembah sungai yang subur;
seperti kumbang mendatangi bunga,
seperti itulah orang berlomba mencari kesejukan lereng–lereng gunung yang indah;
seperti lalat memburu buah mangga,
seperti itulah orang berlomba memburu rezeki di pesisir-pesisir pantai yang makmur;
seperti tikus menyerbu dapur,
seperti itulah orang berlomba menjangkungkan gedung –gedung di kota yang tanahnya mahal,
tanpa sadar sebagian besar telah menghampiri bencana,
tanpa sadar pula sebagian besar terseret arus persengketaan semakin padatnya manusia,
dan baru sadar,
ketika banjir bandang benar-benar memporakporandakan sawah-ladang,
ketika longsor sungguh-sungguh menimbun vila-vila lereng gunung ,
ketika tsunami benar-benar menerjang pusat-pusat rezeki sepanjang pesisir,
ketika gempa sungguh-sungguh menjungkirkan gedung-gedung di kota yang padat.
Padahal sudah dijelaskanNya,
bencana telah ditulis sebelum bumi dicipta,
semua mendatangi neraka dan diselamatkanlah siapa saja yang bertakwa.

Dan ketika bencana telah lewat,
kembalilah sisanya melanjutkan lomba
menanami lembah-lembah sungai yang subur,
mencari kesejukan lereng–lereng gunung yang indah
memburu rezeki di pesisir-pesisir pantai yang makmur
menjangkungkan gedung –gedung di kota yang tanahnya mahal
untuk kemudian akhirnya,
mengulangi sejarah yang sama.

Diilhami oleh QS 11:61, 57:22, 19:71-72
Sastrawan Batangan, 15 November 2009

http://www.sastrawanbatangan.blogspot.com

Sudah Lumrah Di Negeri Atas Nama Ini

Sudah ada sebelum negeri ini dijajah,
ketika atas nama Tuhan, raja memvonis mati orang yang berontak beserta anak turunnya,
ketika atas nama raja, adipati memintapaksa anak perawan salah satu bawahannya,
ketika atas nama adipati, tumenggung menyuruh kakekmu menggempur kakekmu yang lain
ketika atas nama tumenggung, ki lurah berani menyerobot tanah salah satu moyangku
dan itu semua akhirnya dilumrahkan saja,
meski ada yang ditangkap, terluka dan mati karena menyanggah.


Sudah ada selama negeri ini dijajah,
ketika - atas nama kompeni, raja memvonis mati bapaknya yang tak mau turun tahta,
ketika atas nama raja, adipati memintapaksa upeti dari bawahannya,
ketika atas nama adipati, tumenggung meminta kakek kita mau menanami tanaman standar kompeni,
ketika atas nama tumenggung, ki lurah berani menyerobot tanah salah satu moyangku,
dan itu semua akhirnya dilumrahkan saja,
meski ada yang ditangkap, terluka dan mati karena menyanggah.

Sudah lumrah yang dulu berlangsung teruslah berlangsung,
di negeri yang sudah merdeka ini
ketika atas nama Tuhan, muncul halal-haram mendahului ridha Tuhan,
ketika atas nama pimpinan, ada transfer dana tanpa jelas untuk apa,
ketika atas nama atasan, siapa pemenang tender dan siapa yang ditunjuk bisa diatur,
ketika atas nama bos, sedikit orang menjadi lebih penting daripada banyak orang.
Semuanya maklum,
mengelus dada sambil tersenyum,
senyum sendiri-sendiri,
senyum massal tanpa janjian,
dan senyum seperti itu sendiri,
sudah lumrah pula di negeri atas nama ini.

Sastrawan Batangan, 16 Februari 2002/16 November 2009

http://www.sastrawanbatangan.blogspot.com

Tak Bisa Dimajukan Tak Bisa Dimundurkan, Kiamat Pasti.


Ditrenyuhkan tsunami Aceh
dan
berkali-kali dibuat terharu oleh gempa;
lantas dimiriskan berita pemanasan global,
dimerindingkan kabar mendekatnya planet lain ke sistem matahari manusia,
lalu
ditercengangkan berakhirnya kalender Maya tahun 2012,
banyak orang bertanya-tanya,
apa kiamat besar sudah dekat ?


Mama Lorentz bicara,
para pakar menulis,
para akhli membahas,
para akhli agama mengulas,
menjawab kapan kepastian kiamat.
Semuanya tidak menjawab pasti,
karena mereka bukan Tuhan,
dan
takut mendahului ketetapan Tuhan.

Tidak usah bicara kiamat besar,
di mana bumi hancur atau terbelah,
kiamat agak besar semacam tsunami Acehpun,
atau diledakkannya pusat-pusat nuklir dunia oleh teroris,
bisa tak diduga datang.
Tidak usah bicara kiamat agak besar,
kiamat tanggung semacam hancurnya WTC New York,
bisa tak dinyana tiba.
Tidak usah bicara kiamat tanggung,
kiamat kecil pun,
bisa setiap saat menjemput,
ketika jiwa harus dikeluarkan dari wadahnya,
untuk diserahkan kembali kepada Sang Penciptanya.

Karena kiamat,
yang besar, yang agak besar, yang tanggung dan yang kecil
kapan saja bisa datang,
mengapa mesti cemas,
selagi terus yakin dan berusaha sebanyak-banyaknya berbuat baik,
dalam koridor ridhaNya ?
Karena Dia sudah menuliskan,
bencana sudah direncanakanNya sebelum bumi dicipta.
Pasti terjadi dan pasti terjadi,
tidak bisa dimajukan, tidak dapat dimundurkan.
Mengapa mesti cemas ?
Bukankah Dia berjanji akan menyelamatkan
siapa saja yang takwa dan berbuat kebaikan
dalam bingkai agama lurusNya ?

Hikmah dari QS 34:3-4, 16:77 , 12:103, 20:15-16, 41:47; 43:85, 53:57-58, 79:42-46, 15:5, 10:49; 16:61, 57:22, 19:71-72, dll,

Sastrawan Batangan, 16 November 2009.

http://www.sastrawanbatangan.blogspot.com


Minggu, 15 November 2009

Lha Wong Gatal


Bagaimana bisa tegas,
lha wong banyak orang
gatal membaiki
hamba hukum,
gatal membaiki
penegak ketertiban umum,
gatal membaiki
pemberi perizinan,
gatal membaiki
pemberi rekomendasi,
gatal membaiki
pemberi ijazah,
gatal membaiki
pemberi proyek,
gatal membaiki
pengurus hajad banyak orang.


Dan karena banyak orang gatal membaiki,
sementara yang dibaiki juga punya perasaan,
maka yang dibaiki sering gatal untuk balas membaiki,
lupa kalau kebaikannya itu,
hanya baik untuk yang membaiki,
hanya baik untuk yang dibaiki,
bukan baik untuk semua,
sehingga muncullah semrawut,
macet, onar, tengkar, geram, umpat, cemburu, dan marah.

Padahal kalau mau,
tinggal selangkah lagi,
baik untuk semua, benar untuk semua.

Sastrawan Batangan, 16 November 2009
http://www.sastrawanbatangan.blogspot.com

Tontonan


Tontonan, memang dibuat untuk ditonton,
dan karena harus menarik,
maka berlombalah artis, perancang mode, seniman, usahawan,
menyuguhkan yang eksentrik, yang eksotik, yang apik, yang cantik, yang mendebarkan, yang mengharukan,
dan hati merekapun berbunga-bunga bukan kepalang,
kala banyak yang terpukau, lalu tangannya bertepuk riuh,

kala banyak yang kagum, lalu lidahnya berdecak,
kala banyak yang senang, lalu bibirnya menyunggingkan senyum senang,
dan lantaran itulah, uangpun mengalir datang.

Tontonan, memang dibuat untuk ditonton,
dan karena harus menarik,
dan karena uang harus segera datang,
dan karena tak sempat berpikir panjang,
maka berlombalah kopi-mengkopi, contek-mencontek, tiru-meniru.
yang seronokpun mencuat,
yang jorokpun mendapat tempat,
dan meski ada protes, uangpun tetap mengalir datang,

Tontonan, memang dibuat untuk ditonton,
dan karena harus menarik,
sementara keadilan Sang Maha Kuasa tak pernah lapuk oleh zaman,
apalagi terkontaminasi oleh uang,
maka banyak idealisme yang masih menancap di dada,
dan karena itu,
lahirlah tontonan bertuntunan budi pekerti,
tidak jorok, tidak seronok,
tidak mengkopi, tidak mencontek, tidak meniru,
yang tetap membuahkan decak kagum,
tepuk tangan riuh,
dan dengan banyak pujian, uangpun mengalir datang.

Semuanya menghasilkan uang,
semuanya diizinkanNya,
tapi hanya satu diridhaiNya,
yang mengajak kembali kepadaNya

Sastrawan Batangan, 16 November 2009
http://www.sastrawanbatangan.blogspot.com

Jumat, 13 November 2009

Biarkan Sabtu Ini Dunia Menikmati Cinta



Biarkan Sabtu ini dunia diselimuti cinta,
karena dia membangkitkan daya,
ketika jauh menjadi dekat,
ketika pemberang menjadi lembut,
ketika galak menjadi penurut,
ketika penakut menjadi gagah berani.


Biarkan Sabtu ini dunia dipeluk cinta,
karena dia mencipratkan rezeki,
ketika parfum harus dibeli,
ketika baju harus dipunyai,
ketika kendaraan harus dinaiki,
ketika asesori harus dimiliki.

Biarkan Sabtu ini dunia didekap cinta
karena dia mememorikan keindahan masa lalu,
yang menjadikan pertama kali cinta sulit dihapus,
yang menjadikan foto bagus dipandang.
yang menjadikan lagu merdu di telinga,
yang menjadikan gerimis enak dikenang,
yang menjadikan perjalanan manis diingat,

Biarkan Sabtu ini dunia digelimangi cinta,
karena dia menyajikan nikmat,
tidak saja nikmat ketika hinggap di hati,
tidak saja nikmat ketika hinggap di hidung,
tidak saja nikmat ketika hinggap di dekapan,
tapi juga nikmat ketika hinggap di balik celana.

Biarkan Sabtu ini dunia dijelajahi cinta,
karena dia membuahkan pengorbanan,
yang menjadikan menuntut harus diubah menjadi memberi,
yang menjadikan ‘semau gue’ mesti diubah menjadi mau memahami.

Biarkan Sabtu ini dunia dilestarikan cinta
karena dia adalah anugerah akbar,
yang melahirkan keturunan, lagu, musik, novel, cerita, sejarah dan legenda.

Sastrawan Batangan, Sabtu, 14 November 2009.

http://www.sastrawanbatangan.blogspot.com

Lantas KeMana Sembunyi Kalau Enampuluh Kali Gempa Per Hari ?


Amat menakjubkan bumi yang kita pijak ini,
tanpa pernah melonjak-lonjak kegelian kala berputar di porosnya,
tanpa pernah zigzag kegatalan saat memutari mataharinya,
lalu tanpa bilang-bilang,
dia menggempakan dirinya 60 kali per hari *),

tidak dirasa di sini, tapi dirasa di sana,
tidak dirasa di sana, tapi dirasa di sini,
dia datang lalu pergi,
menggiliri semua pelosok,
menelantarkan puing-puing berserakan,
membiarkan luka dan nyawa melayang.
memberikan ujian berlomba mengadakan perbaikan.

Karena bisa terjadi kapan saja
di sebelah mana saja,
tanpa bilang-bilang,
maka benar sekali kata orang tua,
agar tidak enak-enakan di bumi,
nanti lupa pertanda,
maka jelas pula firman Sang Empunya Gempa
agar berbaik-baik kepada bumi
sebagaimana berbaik-baik kepada langit,
sebagaimana juga berbaik-baik
kepada semua makhluk di antaranya

Sastrawan Batangan, 14 November 2009

*) Menurut informasi dari suatu sumber, di seluruh bumi terjadi gempa rata-rata 60 kali per hari.

http://www.sastrawanbatangan.blogspot.com